Tolikara, Papua Pegunungan – Festival Etnik Religi Tolikara (FERT) Ke-I Tahun 2026 resmi dibuka di Lapangan Merah Putih, Kota Karubaga, Distrik Karubaga, Kabupaten Tolikara, Rabu (12/8/2026).
Mengusung tema “Merawat Budaya, Menguatkan Iman, Membangun Tolikara”, festival perdana tersebut menjadi ruang untuk memadukan nilai-nilai keagamaan, kekayaan budaya lokal, kreativitas generasi muda, serta pengembangan pariwisata dan ekonomi masyarakat.
Pembukaan FERT dihadiri Bupati Tolikara Willem Wandik, S.Sos., Wakil Bupati Tolikara Yotam Wonda, S.H., M.Si., Pangkoops TNI Habema Mayjen TNI Yudha Airlangga, Danrem 172/PWY Brigjen TNI Robby Suryadi, S.Sos., M.M., Dandim 1716/Tolikara Letkol Inf. Derek S. Rumbino, Kapolres Tolikara Kompol Roberth Hitipeuw, S.H., M.H., Sekda Tolikara Dr. Yosua Noak Douw, S.Sos., M.Si., M.A., Presiden GIDI Pdt. Usman Kobak, S.Th., M.A., Ketua GIDI Wilayah Tolikara Pdt. Jeremias Wandik, S.Th., unsur Kementerian Agama, pimpinan OPD, serta tokoh agama, adat, masyarakat dan pemuda. Sekitar 500 masyarakat turut memeriahkan kegiatan tersebut.
Rangkaian pembukaan diawali dengan ibadah syukur, doa, puji-pujian dan refleksi Firman Tuhan, kemudian dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia Raya serta laporan Ketua Panitia FERT 2026 Herbeth Sonny Imbiri, S.AP.
Ketua Panitia menjelaskan bahwa festival yang berlangsung pada 12–13 Agustus 2026 tersebut merupakan upaya Pemerintah Kabupaten Tolikara bersama masyarakat untuk melestarikan budaya dan nilai-nilai religi sekaligus memperkenalkan potensi seni, pariwisata dan ekonomi kreatif daerah.
Berbagai kegiatan disiapkan, mulai dari pertunjukan seni dan tradisi masyarakat Tolikara, kegiatan bernuansa religi, pameran produk UMKM dan ekonomi kreatif, hingga pertunjukan musik ukulele yang melibatkan 150 pelajar tingkat SD, SMP dan SMA se-Karubaga.
Direktur Urusan Agama Kristen Kementerian Agama RI Luksen Jems Mayor, S.Sos., M.A.P. mengapresiasi penyelenggaraan FERT sebagai ruang untuk memperkuat persaudaraan, kerukunan dan persatuan masyarakat.
“Festival ini bukan sekadar perayaan, melainkan sarana mempererat persaudaraan, memperkuat kerukunan, dan meneguhkan persatuan di tengah keberagaman yang kita miliki,” ujarnya.
Sementara itu, Bupati Tolikara Willem Wandik menegaskan bahwa FERT tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi momentum memperkuat identitas masyarakat melalui perpaduan antara iman dan budaya.
Menurutnya, iman memberikan arah, sedangkan budaya memberikan akar. Keduanya harus berjalan bersama untuk membentuk masyarakat Tolikara yang berkarakter, memiliki identitas kuat, serta mampu menghadapi perkembangan zaman.
Bupati juga mengajak masyarakat menjadikan Tolikara sebagai Tanah Injil yang ramah dan Tanah Damai dengan terus menumbuhkan nilai kasih, persaudaraan, penghormatan terhadap sesama dan keramahan dalam kehidupan bermasyarakat.
“Budaya kita adalah jati diri kita, iman kita adalah kekuatan kita, keramahan kita adalah wajah kita, anak-anak kita adalah masa depan kita, alam kita adalah rumah kehidupan kita, dan persatuan adalah jalan kemajuan kita,” tegas Bupati.
Perhatian khusus turut diberikan kepada generasi muda. Seni, musik, budaya dan berbagai aktivitas positif diharapkan menjadi sarana pembinaan karakter sekaligus menjauhkan generasi muda dari minuman keras, narkoba, perjudian, kekerasan dan penyalahgunaan media sosial.
Dari sisi ekonomi, penyelenggaraan FERT diharapkan memberikan dampak langsung kepada masyarakat dengan melibatkan mama-mama Papua, pemuda, petani, peternak, pengrajin, seniman, pelaku kuliner hingga pelaku UMKM dan ekonomi kreatif.
Pembukaan festival secara resmi ditandai dengan pelepasan balon ke udara pada pukul 14.11 WIT. Kegiatan kemudian dimeriahkan dengan persembahan Hosana Singer, lagu Tanah Papua, lagu-lagu pujian, serta penampilan musik gitar ukulele oleh 150 pelajar.
Festival juga menampilkan pentas sejarah masuknya Injil di Lembah Toli yang diperankan pemuda-pemudi GIDI. Pertunjukan tersebut menjadi sarana memperkenalkan sejarah serta nilai-nilai religi kepada generasi muda melalui seni pertunjukan.
Sebanyak 18 stan pameran turut disiapkan Pemerintah Kabupaten Tolikara untuk menampilkan berbagai potensi daerah, produk masyarakat, UMKM dan ekonomi kreatif.
Kapolres Tolikara Kompol Roberth Hitipeuw, S.H., M.H. yang hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan dukungan Polri terhadap penyelenggaraan FERT, khususnya sebagai kegiatan positif yang mampu memperkuat persatuan dan kebersamaan masyarakat.
“Kami dari Polres Tolikara mendukung penuh kegiatan Festival Etnik Religi ini. Budaya, agama dan kebersamaan merupakan kekuatan yang harus terus kita rawat bersama. Mari kita jadikan festival ini sebagai momentum untuk mempererat persaudaraan dan menjaga Tolikara tetap aman, damai dan kondusif,” ujar Kapolres.
Polres Tolikara bersama TNI dan unsur terkait turut memastikan keamanan seluruh rangkaian kegiatan sehingga masyarakat dapat mengikuti festival dengan aman dan nyaman.
Pembukaan Festival Etnik Religi Tolikara Ke-I Tahun 2026 berakhir sekitar pukul 16.00 WIT dalam keadaan aman, tertib dan kondusif.
Melalui FERT 2026, diharapkan budaya dan nilai-nilai keagamaan terus diwariskan kepada generasi muda sekaligus menjadi kekuatan dalam mengembangkan pariwisata, kreativitas dan perekonomian masyarakat serta memperkokoh persatuan untuk membangun Tolikara yang aman, damai dan sejahtera.
Penulis: Gunz